
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Setiap lembaga yang bertahan lama
biasanya memiliki sosok yang tampak di depan layar dan sosok yang bekerja dalam
diam di belakang layar. Jika masyarakat mengenal founder TBM An Nur Palajau
sebagai orang yang merintis dan mengelola taman baca ini, maka ada satu nama
yang tidak boleh dilupakan dari perjalanan panjang tersebut, yaitu Kaspianti
atau yang akrab disapa Daeng Layu.
Perjalanan hidup tidak selalu berjalan
sesuai rencana. Ketika suaminya mengalami sakit berkepanjangan hingga kemudian
menyandang status sebagai penyandang disabilitas, Daeng Layu memilih tetap
berdiri di sampingnya. Ia tidak hanya menjadi istri, tetapi juga sahabat,
penguat, dan teman seperjuangan yang setia menemani dalam masa-masa sulit.
Ketika gagasan mendirikan taman baca muncul, Daeng Layu termasuk orang pertama yang percaya bahwa mimpi tersebut layak diperjuangkan. Di saat banyak orang mungkin meragukan manfaat taman baca di sebuah desa, ia justru membuka ruang di pekarangan depan rumahnya untuk menjadi tempat tumbuhnya harapan dan cita-cita literasi.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa
modal awal TBM An Nur Palajau berasal dari pengorbanan sederhana namun sangat
berarti. Dana sebesar satu juta rupiah yang menjadi modal awal lahir dari
potongan uang belanja rumah tangga. Nilainya mungkin tidak besar bagi sebagian
orang, tetapi di balik jumlah itu tersimpan keyakinan dan keberanian seorang
istri yang mendukung cita-cita suaminya.
Pengorbanan tersebut tidak berhenti
pada masa awal pendirian. Hingga kini, Daeng Layu tetap rela sebagian anggaran
rumah tangga dialihkan untuk membantu biaya operasional TBM. Di tengah
kebutuhan keluarga yang tidak sedikit, ia memahami bahwa mempertahankan taman
baca juga merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Ketika kebutuhan operasional semakin
besar, Daeng Layu kembali ikut memikirkan solusi. Bersama suaminya, ia mencoba
membangun Kedai Literasi sebagai usaha yang diharapkan dapat menopang
keberlangsungan program-program taman baca. Meski hasilnya belum sepenuhnya
mampu memenuhi kebutuhan lembaga, usaha tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak
pernah tinggal diam menghadapi persoalan.
Peran Daeng Layu juga sangat terasa pada saat-saat suaminya mengalami kelelahan, kekecewaan, atau kehilangan semangat. Mengelola taman baca tanpa dukungan dana pemerintah bukanlah pekerjaan mudah. Tidak jarang muncul rasa putus asa ketika perjuangan yang dilakukan bertahun-tahun belum mendapatkan perhatian sebagaimana yang diharapkan. Dalam situasi seperti itulah Daeng Layu hadir sebagai penghibur dan penyemangat yang mengingatkan bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti.
Selain mendukung kegiatan literasi,
Daeng Layu juga turut membangun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Ia
menggagas kelompok pengajian yang bekerja sama dengan Wahdah Islamiyah sebagai
bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keislaman di lingkungan sekitar.
Baginya, membangun masyarakat tidak cukup hanya melalui literasi, tetapi juga
melalui pembinaan akhlak dan keagamaan.
Dalam berbagai kegiatan di luar
daerah, Daeng Layu juga setia mendampingi suaminya. Kehadirannya menjadi
dukungan moral yang sangat berarti, terutama mengingat kondisi kesehatan dan
keterbatasan fisik yang harus dihadapi. Ia memahami bahwa perjuangan besar
sering kali membutuhkan teman perjalanan yang sabar dan setia.
Dukungan tersebut bahkan diwujudkan
dalam bentuk yang lebih nyata. Ketika kebutuhan transportasi untuk menunjang
aktivitas TBM semakin besar, keluarga ini berusaha memiliki mobil bekas yang
kemudian dimanfaatkan sebagai kendaraan operasional. Bagi sebagian orang, mobil
hanyalah alat transportasi. Namun bagi TBM An Nur, kendaraan tersebut adalah
sarana untuk memperluas pelayanan, menghadiri kegiatan, serta membawa misi
literasi ke berbagai tempat.
Selama enam tahun perjalanan TBM An Nur Palajau, mungkin tidak semua orang melihat peran besar Daeng Layu. Ia tidak banyak tampil di depan publik. Ia jarang menjadi pusat perhatian. Namun justru dari ketulusan yang bekerja dalam diam itulah TBM An Nur mampu bertahan menghadapi berbagai badai.
Karena itu, tidak berlebihan jika
founder TBM An Nur Palajau menyampaikan sebuah pengakuan yang lahir dari
pengalaman panjang perjuangan bersama:
"Tanpa istri tercinta, TBM An Nur
sudah lama mati."
Kalimat sederhana itu bukan sekadar
ungkapan kasih sayang, melainkan pengakuan atas besarnya peran seorang
perempuan yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, kenyamanan, dan
sebagian rezekinya demi menjaga agar cahaya literasi tetap menyala. Kaspianti
Daeng Layu telah membuktikan bahwa di balik setiap gerakan sosial yang bertahan
lama, sering kali ada seorang perempuan tangguh yang bekerja dengan cinta,
kesabaran, dan keikhlasan.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
kesehatan, keberkahan umur, dan pahala yang berlipat ganda atas setiap
pengorbanan yang telah diberikan. Sebab di balik ribuan halaman buku yang
dibaca anak-anak, di balik berbagai prestasi yang diraih TBM An Nur, dan di
balik cahaya literasi yang terus menyala, terdapat jejak pengabdian seorang
perempuan bernama Kaspianti Daeng Layu. (Els@h).




