Senin, 15 Juni 2026 | Gemaliterasi.Com

Kaspianti Daeng Layu: Perempuan di Balik Nyala Cahaya TBM An Nur Palajau

Rabu, 3 Juni 2026 57
Gemaliterasi.Com

Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Setiap lembaga yang bertahan lama biasanya memiliki sosok yang tampak di depan layar dan sosok yang bekerja dalam diam di belakang layar. Jika masyarakat mengenal founder TBM An Nur Palajau sebagai orang yang merintis dan mengelola taman baca ini, maka ada satu nama yang tidak boleh dilupakan dari perjalanan panjang tersebut, yaitu Kaspianti atau yang akrab disapa Daeng Layu.

Perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika suaminya mengalami sakit berkepanjangan hingga kemudian menyandang status sebagai penyandang disabilitas, Daeng Layu memilih tetap berdiri di sampingnya. Ia tidak hanya menjadi istri, tetapi juga sahabat, penguat, dan teman seperjuangan yang setia menemani dalam masa-masa sulit.

Ketika gagasan mendirikan taman baca muncul, Daeng Layu termasuk orang pertama yang percaya bahwa mimpi tersebut layak diperjuangkan. Di saat banyak orang mungkin meragukan manfaat taman baca di sebuah desa, ia justru membuka ruang di pekarangan depan rumahnya untuk menjadi tempat tumbuhnya harapan dan cita-cita literasi.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa modal awal TBM An Nur Palajau berasal dari pengorbanan sederhana namun sangat berarti. Dana sebesar satu juta rupiah yang menjadi modal awal lahir dari potongan uang belanja rumah tangga. Nilainya mungkin tidak besar bagi sebagian orang, tetapi di balik jumlah itu tersimpan keyakinan dan keberanian seorang istri yang mendukung cita-cita suaminya.

Pengorbanan tersebut tidak berhenti pada masa awal pendirian. Hingga kini, Daeng Layu tetap rela sebagian anggaran rumah tangga dialihkan untuk membantu biaya operasional TBM. Di tengah kebutuhan keluarga yang tidak sedikit, ia memahami bahwa mempertahankan taman baca juga merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Ketika kebutuhan operasional semakin besar, Daeng Layu kembali ikut memikirkan solusi. Bersama suaminya, ia mencoba membangun Kedai Literasi sebagai usaha yang diharapkan dapat menopang keberlangsungan program-program taman baca. Meski hasilnya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan lembaga, usaha tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak pernah tinggal diam menghadapi persoalan.

Peran Daeng Layu juga sangat terasa pada saat-saat suaminya mengalami kelelahan, kekecewaan, atau kehilangan semangat. Mengelola taman baca tanpa dukungan dana pemerintah bukanlah pekerjaan mudah. Tidak jarang muncul rasa putus asa ketika perjuangan yang dilakukan bertahun-tahun belum mendapatkan perhatian sebagaimana yang diharapkan. Dalam situasi seperti itulah Daeng Layu hadir sebagai penghibur dan penyemangat yang mengingatkan bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti.

Selain mendukung kegiatan literasi, Daeng Layu juga turut membangun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Ia menggagas kelompok pengajian yang bekerja sama dengan Wahdah Islamiyah sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keislaman di lingkungan sekitar. Baginya, membangun masyarakat tidak cukup hanya melalui literasi, tetapi juga melalui pembinaan akhlak dan keagamaan.

Dalam berbagai kegiatan di luar daerah, Daeng Layu juga setia mendampingi suaminya. Kehadirannya menjadi dukungan moral yang sangat berarti, terutama mengingat kondisi kesehatan dan keterbatasan fisik yang harus dihadapi. Ia memahami bahwa perjuangan besar sering kali membutuhkan teman perjalanan yang sabar dan setia.

Dukungan tersebut bahkan diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata. Ketika kebutuhan transportasi untuk menunjang aktivitas TBM semakin besar, keluarga ini berusaha memiliki mobil bekas yang kemudian dimanfaatkan sebagai kendaraan operasional. Bagi sebagian orang, mobil hanyalah alat transportasi. Namun bagi TBM An Nur, kendaraan tersebut adalah sarana untuk memperluas pelayanan, menghadiri kegiatan, serta membawa misi literasi ke berbagai tempat.

Selama enam tahun perjalanan TBM An Nur Palajau, mungkin tidak semua orang melihat peran besar Daeng Layu. Ia tidak banyak tampil di depan publik. Ia jarang menjadi pusat perhatian. Namun justru dari ketulusan yang bekerja dalam diam itulah TBM An Nur mampu bertahan menghadapi berbagai badai.

Karena itu, tidak berlebihan jika founder TBM An Nur Palajau menyampaikan sebuah pengakuan yang lahir dari pengalaman panjang perjuangan bersama:

"Tanpa istri tercinta, TBM An Nur sudah lama mati."

Kalimat sederhana itu bukan sekadar ungkapan kasih sayang, melainkan pengakuan atas besarnya peran seorang perempuan yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, kenyamanan, dan sebagian rezekinya demi menjaga agar cahaya literasi tetap menyala. Kaspianti Daeng Layu telah membuktikan bahwa di balik setiap gerakan sosial yang bertahan lama, sering kali ada seorang perempuan tangguh yang bekerja dengan cinta, kesabaran, dan keikhlasan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan umur, dan pahala yang berlipat ganda atas setiap pengorbanan yang telah diberikan. Sebab di balik ribuan halaman buku yang dibaca anak-anak, di balik berbagai prestasi yang diraih TBM An Nur, dan di balik cahaya literasi yang terus menyala, terdapat jejak pengabdian seorang perempuan bernama Kaspianti Daeng Layu. (Els@h).

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login