
Jeneponto-Gemaliterasi. Pasar Tolo merupakan salah satu pusat perdagangan tertua dan paling bersejarah di Kabupaten Jeneponto. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, khususnya di Kecamatan Kelara. Selama berabad-abad, pasar ini telah menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai wilayah untuk melakukan transaksi perdagangan, bertukar informasi, menjalin hubungan sosial, hingga memperkuat ikatan budaya antarwilayah.
Bagi masyarakat Jeneponto, Pasar Tolo
bukan sekadar tempat jual beli. Pasar ini merupakan bagian dari identitas
daerah yang tumbuh bersama perjalanan sejarah Kerajaan Tolo. Di tempat inilah
denyut kehidupan masyarakat berlangsung dari generasi ke generasi. Berbagai
komoditas pertanian, peternakan, kebutuhan rumah tangga, hingga kuliner khas
daerah diperdagangkan dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Hingga saat ini, Pasar Tolo masih mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat ekonomi penting di wilayah Turatea. Bahkan, keberadaan pasar kuda yang menyatu dengan Pasar Tolo menjadikannya memiliki keunikan tersendiri yang sulit ditemukan di daerah lain di Indonesia.
A.
Tolo dalam Lintasan Sejarah Kerajaan
Turatea
Kecamatan Kelara saat ini merupakan
wilayah yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Tolo, salah satu kerajaan penting
dalam sejarah Turatea. Kerajaan Tolo telah berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi
anggota Persekutuan Negeri Turatea yang dipimpin oleh Kerajaan Binamu.
Dalam sistem pemerintahan tradisional
Turatea, Kerajaan Tolo dikenal sebagai Kakaraengang Palili dari Kerajaan
Binamu. Meskipun memiliki pemerintahan sendiri, kerajaan ini tetap menjadi
bagian dari sistem politik yang lebih besar dalam Persekutuan Negeri Turatea.
Sebelum berkembang menjadi sebuah
kakaraengang atau kerajaan yang mandiri, Tolo merupakan sebuah wilayah
pemerintahan berbentuk kakareang yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Gowa.
Pada awal abad ke-17, bersama kerajaan-kerajaan lain di Turatea, Tolo berhasil
melepaskan diri dari dominasi Gowa setelah membangun kekuatan bersama melalui
Persekutuan Negeri Turatea.
Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, nama Tolo berasal dari seorang tokoh bernama I Tolo' Daeng Parani. Ia dikenal sebagai sosok pendatang yang gagah perkasa, pemberani, dan disegani. Tokoh inilah yang dipercaya mendirikan sebuah dampang atau tempat perlindungan yang kemudian berkembang menjadi pemukiman dan pusat pemerintahan. Dari nama tokoh tersebut kemudian lahirlah nama Tolo yang terus bertahan hingga sekarang.
B.
Pasar Tolo pada Masa Awal Kerajaan
Berdasarkan berbagai petunjuk sejarah
dan tradisi masyarakat, Pasar Tolo diperkirakan telah ada sebelum terbentuknya
Kerajaan Tolo, yaitu sebelum abad ke-17. Walaupun belum diketahui secara pasti
di mana lokasi awal pasar tersebut, keberadaannya menunjukkan bahwa wilayah
Tolo telah menjadi pusat aktivitas ekonomi sejak masa lampau.
Pada masa awal, pusat pemerintahan
Tolo bukan berada di wilayah Tolo sekarang, melainkan di kawasan yang saat ini
dikenal sebagai Tolotoa. Nama Tolotoa sendiri berarti "Tolo Tua",
sebagai penanda bahwa wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan lama
Kerajaan Tolo.
Ketika ibu kota kerajaan berpindah ke
tempat lain, nama Tolo tetap digunakan untuk pusat pemerintahan yang baru,
sedangkan pusat kerajaan lama kemudian dikenal sebagai Tolotoa. Hingga kini
masih terdapat sebuah pasar tua berukuran kecil di wilayah Kelurahan Tolo
Selatan yang diduga merupakan sisa lokasi pasar kerajaan pada masa lampau.
Pasar tersebut kini tidak lagi ramai sebagaimana dahulu. Kemungkinan besar aktivitas perdagangan berpindah mengikuti perpindahan pusat pemerintahan kerajaan ke lokasi yang baru. Meskipun demikian, keberadaan pasar tua tersebut menjadi salah satu petunjuk penting mengenai perkembangan ekonomi Kerajaan Tolo pada masa silam.
C.
Perpindahan Ibu Kota Kerajaan dan
Lahirnya Pasar Tolo Modern
Pada awal abad ke-20, Raja Tolo yang
bernama Pateala Daeng Nyauru memindahkan ibu kota kerajaan ke Mataere, yaitu
wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tolo. Sebelum perpindahan tersebut,
istana kerajaan sempat berada di Bontolebang setelah meninggalkan pusat
pemerintahan lama di Tolotoa.
Perpindahan ini tidak terlepas dari
kondisi politik pada masa kolonial. Kota kerajaan lama yang berada dalam
kawasan benteng telah dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya,
pusat pemerintahan harus dipindahkan ke lokasi yang dianggap lebih aman dan
strategis.
Campur tangan Belanda dalam proses
perpindahan ibu kota sangat mungkin terjadi. Hal ini disebabkan Kerajaan Tolo
telah berada di bawah pengaruh kolonial sejak akhir abad ke-19 setelah
kekalahan kerajaan-kerajaan Turatea dalam Perang Turatea. Dalam perang
tersebut, pasukan Kompeni Belanda yang bersekutu dengan pasukan La Pawawoi
Karaeng Sigeri dari Bone berhasil menundukkan perlawanan kerajaan-kerajaan di
kawasan Turatea.
Setelah menetap di Mataere, Karaeng Tolo melakukan berbagai pembenahan. Sebuah masjid dibangun di depan istana sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Di sebelah utara istana dibangun alun-alun kerajaan yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Soeharto. Sementara itu, di sebelah barat istana didirikan pasar kerajaan yang kemudian berkembang menjadi Pasar Tolo yang dikenal masyarakat saat ini.
D.
Pusat Perdagangan Antar Kerajaan
Sebagai pasar kerajaan, Pasar Tolo
dibangun pada kawasan yang luas dan relatif datar sehingga memudahkan aktivitas
perdagangan. Letaknya yang strategis menjadikannya sebagai titik pertemuan para
pedagang dari berbagai wilayah.
Pedagang dari Kerajaan Binamu di
bagian selatan, Kerajaan Rumbia di bagian utara, Kerajaan Tarowang, Kerajaan
Bontorappo, hingga wilayah bekas Kerajaan Gowa di sebelah barat datang untuk
menjual berbagai hasil bumi, ternak, kerajinan, dan kebutuhan sehari-hari.
Keberadaan pasar ini memiliki peranan
yang sangat penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antarwilayah. Melalui
pasar, masyarakat tidak hanya melakukan transaksi jual beli, tetapi juga
bertukar informasi, menjalin hubungan kekerabatan, serta mempererat
persaudaraan antarkampung dan antarkerajaan.
Dalam masyarakat tradisional, pasar sering menjadi pusat kehidupan sosial. Berbagai informasi penting mengenai pemerintahan, pertanian, cuaca, perkawinan, hingga kegiatan adat biasanya menyebar melalui interaksi masyarakat di pasar. Oleh karena itu, Pasar Tolo memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar pusat perdagangan.
E.
Pasar Kuda: Kebanggaan Jeneponto
Salah satu keunikan terbesar Pasar
Tolo adalah keberadaan pasar kuda yang terletak di bagian utara kompleks pasar.
Pasar ini telah lama menjadi simbol Kabupaten Jeneponto sebagai daerah
peternakan kuda terbesar di Sulawesi Selatan.
Keberadaan pasar kuda menjadikan Pasar
Tolo dikenal luas hingga ke luar daerah. Setiap pekan, ratusan pedagang dan
pembeli datang untuk melakukan transaksi jual beli kuda. Aktivitas ini telah
berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Sekitar 200 pedagang kuda rutin datang
ke Pasar Tolo. Mereka berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Jeneponto dan
berbagai daerah lainnya seperti Kabupaten Sinjai, Bantaeng, Takalar, Gowa,
Makassar, Polewali Mandar, hingga Soppeng.
Berbagai jenis kuda diperdagangkan di
pasar ini, antara lain:
1. Kuda
Lokal Jeneponto dan Sulawesi Selatan
Jenis ini paling banyak diminati
masyarakat. Kuda lokal dikenal kuat, tahan terhadap iklim setempat, dan
memiliki kualitas daging yang baik. Karena keunggulannya, harga kuda lokal
umumnya lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya.
2.
Kuda Sumba
Didatangkan dari Pulau Sumba, Nusa
Tenggara Timur. Ukurannya besar, posturnya kokoh, dan kualitas dagingnya
dianggap baik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
3.
Kuda Kupang
Jenis
ini umumnya berukuran lebih kecil dan kurus dibandingkan kuda lokal maupun kuda
Sumba. Harga jualnya relatif lebih murah sehingga menjadi pilihan bagi pembeli
dengan anggaran terbatas.
4.
Kuda Flores
Kuda
Flores memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan kuda lokal Sulawesi
Selatan, baik dari segi ukuran maupun kualitas daging. Harga jualnya juga
relatif sebanding.
5.
Kuda Bima
Kuda asal Bima memiliki ukuran tubuh yang besar dan kualitas yang cukup baik. Karakteristiknya sering dibandingkan dengan kuda Sumba sehingga termasuk kategori kuda bernilai tinggi.
F.
Kuliner Khas yang Menggoda Selera
Selain dikenal sebagai pusat
perdagangan kuda, Pasar Tolo juga menjadi surga kuliner bagi masyarakat
Jeneponto. Di sepanjang pinggir pasar berjejer warung-warung yang menyajikan
berbagai makanan khas daerah.
Salah satu yang paling terkenal adalah
Gantalak Jarang, kuliner berbahan dasar daging kuda yang telah menjadi
identitas kuliner masyarakat Kelara dan Jeneponto. Aroma masakan yang khas
sering kali menggoda para pengunjung yang datang ke pasar.
Setiap hari masyarakat dapat membeli
daging kuda segar di kawasan pasar. Daging tersebut kemudian diolah menjadi
berbagai menu tradisional yang memiliki cita rasa khas dan digemari masyarakat.
Bagi banyak orang, berkunjung ke Pasar Tolo terasa belum lengkap tanpa menikmati sajian Gantalak Jarang yang dijual di warung-warung sekitar pasar. Kuliner ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berkunjung ke salah satu pasar bersejarah di Turatea.
G.
Pembenahan Pasar pada Masa Modern
Setelah Indonesia merdeka, wilayah
bekas Kerajaan Tolo diubah menjadi Kecamatan Kelara. Meskipun sistem kerajaan
telah berakhir, Pasar Tolo tetap mempertahankan perannya sebagai pusat ekonomi
masyarakat.
Pada tahun 1983, Bupati Jeneponto Drs.
H. Palangkei Daeng Lagu melakukan penataan besar-besaran terhadap Pasar Tolo.
Pemerintah membangun deretan kios pakaian di bagian tengah pasar, sementara
bagian pinggir ditempati pedagang campuran dan warung-warung kuliner.
Pada masa yang sama, Pasar Kuda juga
dibenahi dan diresmikan sebagai Pasar Kuda Kabupaten Jeneponto. Kebijakan ini
semakin memperkuat posisi Pasar Tolo sebagai pusat perdagangan ternak kuda
terbesar di daerah.
Selanjutnya pada tahun 2015, Bupati
Jeneponto Drs. H. Ishak Iskandar kembali melakukan renovasi pasar. Berbagai
fasilitas diperbaiki untuk meningkatkan kenyamanan pedagang dan pengunjung.
Pemerintah juga membangun Kantor Pengelolaan Pasar Hewan yang bertugas mendata keluar-masuk kuda, memungut retribusi, serta menerbitkan Surat Jaminan Kesehatan Kuda sebagai syarat perdagangan ternak yang sehat dan aman.
H. Menjaga
Warisan Sejarah untuk Masa Depan
Pasar Tolo bukan hanya aset ekonomi,
tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan perjalanan panjang sejarah
Kerajaan Tolo dan masyarakat Turatea. Di tempat ini tersimpan jejak
perkembangan pemerintahan, perdagangan, peternakan, dan kehidupan sosial masyarakat
selama berabad-abad.
Hingga kini Pasar Tolo beroperasi
setiap hari Selasa dan Sabtu. Hari Sabtu merupakan hari pasar yang paling ramai
karena menjadi waktu utama transaksi berbagai komoditas, terutama kuda.
Sementara itu, pada hari Jumat para pedagang sayuran dari daerah pegunungan
mulai berdatangan untuk memasok kebutuhan para pedagang eceran.
Keberadaan pasar ini membuktikan bahwa
sebuah pasar tradisional dapat bertahan dan berkembang selama ratusan tahun
ketika didukung oleh masyarakat yang menjadikannya bagian dari identitas budaya
mereka.
Oleh karena itu, Pasar Tolo layak
dipandang bukan hanya sebagai pusat perdagangan, melainkan sebagai warisan
budaya Kerajaan Tolo yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada
generasi mendatang. Melalui Pasar Tolo, masyarakat Jeneponto dapat terus
mengenang sejarah panjang leluhurnya sekaligus menjaga denyut ekonomi yang
telah menghidupi masyarakat Turatea selama berabad-abad.




