Sabtu, 13 Juni 2026 | Gemaliterasi.Com

Pasar Tolo: Warisan Budaya Kerajaan Tolo

Jejak Sejarah, Pusat Perdagangan, dan Ikon Pasar Kuda Kabupaten Jeneponto

Oleh: Ella' Sahabuddin (Founder TBM An Nur Palajau)
Minggu, 14 Juli 2024 98
Gemaliterasi.Com

Jeneponto-Gemaliterasi. Pasar Tolo merupakan salah satu pusat perdagangan tertua dan paling bersejarah di Kabupaten Jeneponto. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, khususnya di Kecamatan Kelara. Selama berabad-abad, pasar ini telah menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai wilayah untuk melakukan transaksi perdagangan, bertukar informasi, menjalin hubungan sosial, hingga memperkuat ikatan budaya antarwilayah.

Bagi masyarakat Jeneponto, Pasar Tolo bukan sekadar tempat jual beli. Pasar ini merupakan bagian dari identitas daerah yang tumbuh bersama perjalanan sejarah Kerajaan Tolo. Di tempat inilah denyut kehidupan masyarakat berlangsung dari generasi ke generasi. Berbagai komoditas pertanian, peternakan, kebutuhan rumah tangga, hingga kuliner khas daerah diperdagangkan dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.

Hingga saat ini, Pasar Tolo masih mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat ekonomi penting di wilayah Turatea. Bahkan, keberadaan pasar kuda yang menyatu dengan Pasar Tolo menjadikannya memiliki keunikan tersendiri yang sulit ditemukan di daerah lain di Indonesia. 

A.   Tolo dalam Lintasan Sejarah Kerajaan Turatea

Kecamatan Kelara saat ini merupakan wilayah yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Tolo, salah satu kerajaan penting dalam sejarah Turatea. Kerajaan Tolo telah berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi anggota Persekutuan Negeri Turatea yang dipimpin oleh Kerajaan Binamu.

Dalam sistem pemerintahan tradisional Turatea, Kerajaan Tolo dikenal sebagai Kakaraengang Palili dari Kerajaan Binamu. Meskipun memiliki pemerintahan sendiri, kerajaan ini tetap menjadi bagian dari sistem politik yang lebih besar dalam Persekutuan Negeri Turatea.

Sebelum berkembang menjadi sebuah kakaraengang atau kerajaan yang mandiri, Tolo merupakan sebuah wilayah pemerintahan berbentuk kakareang yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Gowa. Pada awal abad ke-17, bersama kerajaan-kerajaan lain di Turatea, Tolo berhasil melepaskan diri dari dominasi Gowa setelah membangun kekuatan bersama melalui Persekutuan Negeri Turatea.

Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, nama Tolo berasal dari seorang tokoh bernama I Tolo' Daeng Parani. Ia dikenal sebagai sosok pendatang yang gagah perkasa, pemberani, dan disegani. Tokoh inilah yang dipercaya mendirikan sebuah dampang atau tempat perlindungan yang kemudian berkembang menjadi pemukiman dan pusat pemerintahan. Dari nama tokoh tersebut kemudian lahirlah nama Tolo yang terus bertahan hingga sekarang. 

B.   Pasar Tolo pada Masa Awal Kerajaan

Berdasarkan berbagai petunjuk sejarah dan tradisi masyarakat, Pasar Tolo diperkirakan telah ada sebelum terbentuknya Kerajaan Tolo, yaitu sebelum abad ke-17. Walaupun belum diketahui secara pasti di mana lokasi awal pasar tersebut, keberadaannya menunjukkan bahwa wilayah Tolo telah menjadi pusat aktivitas ekonomi sejak masa lampau.

Pada masa awal, pusat pemerintahan Tolo bukan berada di wilayah Tolo sekarang, melainkan di kawasan yang saat ini dikenal sebagai Tolotoa. Nama Tolotoa sendiri berarti "Tolo Tua", sebagai penanda bahwa wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan lama Kerajaan Tolo.

Ketika ibu kota kerajaan berpindah ke tempat lain, nama Tolo tetap digunakan untuk pusat pemerintahan yang baru, sedangkan pusat kerajaan lama kemudian dikenal sebagai Tolotoa. Hingga kini masih terdapat sebuah pasar tua berukuran kecil di wilayah Kelurahan Tolo Selatan yang diduga merupakan sisa lokasi pasar kerajaan pada masa lampau.

Pasar tersebut kini tidak lagi ramai sebagaimana dahulu. Kemungkinan besar aktivitas perdagangan berpindah mengikuti perpindahan pusat pemerintahan kerajaan ke lokasi yang baru. Meskipun demikian, keberadaan pasar tua tersebut menjadi salah satu petunjuk penting mengenai perkembangan ekonomi Kerajaan Tolo pada masa silam. 

C.   Perpindahan Ibu Kota Kerajaan dan Lahirnya Pasar Tolo Modern

Pada awal abad ke-20, Raja Tolo yang bernama Pateala Daeng Nyauru memindahkan ibu kota kerajaan ke Mataere, yaitu wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tolo. Sebelum perpindahan tersebut, istana kerajaan sempat berada di Bontolebang setelah meninggalkan pusat pemerintahan lama di Tolotoa.

Perpindahan ini tidak terlepas dari kondisi politik pada masa kolonial. Kota kerajaan lama yang berada dalam kawasan benteng telah dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, pusat pemerintahan harus dipindahkan ke lokasi yang dianggap lebih aman dan strategis.

Campur tangan Belanda dalam proses perpindahan ibu kota sangat mungkin terjadi. Hal ini disebabkan Kerajaan Tolo telah berada di bawah pengaruh kolonial sejak akhir abad ke-19 setelah kekalahan kerajaan-kerajaan Turatea dalam Perang Turatea. Dalam perang tersebut, pasukan Kompeni Belanda yang bersekutu dengan pasukan La Pawawoi Karaeng Sigeri dari Bone berhasil menundukkan perlawanan kerajaan-kerajaan di kawasan Turatea.

Setelah menetap di Mataere, Karaeng Tolo melakukan berbagai pembenahan. Sebuah masjid dibangun di depan istana sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Di sebelah utara istana dibangun alun-alun kerajaan yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Soeharto. Sementara itu, di sebelah barat istana didirikan pasar kerajaan yang kemudian berkembang menjadi Pasar Tolo yang dikenal masyarakat saat ini. 

D.   Pusat Perdagangan Antar Kerajaan

Sebagai pasar kerajaan, Pasar Tolo dibangun pada kawasan yang luas dan relatif datar sehingga memudahkan aktivitas perdagangan. Letaknya yang strategis menjadikannya sebagai titik pertemuan para pedagang dari berbagai wilayah.

Pedagang dari Kerajaan Binamu di bagian selatan, Kerajaan Rumbia di bagian utara, Kerajaan Tarowang, Kerajaan Bontorappo, hingga wilayah bekas Kerajaan Gowa di sebelah barat datang untuk menjual berbagai hasil bumi, ternak, kerajinan, dan kebutuhan sehari-hari.

Keberadaan pasar ini memiliki peranan yang sangat penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antarwilayah. Melalui pasar, masyarakat tidak hanya melakukan transaksi jual beli, tetapi juga bertukar informasi, menjalin hubungan kekerabatan, serta mempererat persaudaraan antarkampung dan antarkerajaan.

Dalam masyarakat tradisional, pasar sering menjadi pusat kehidupan sosial. Berbagai informasi penting mengenai pemerintahan, pertanian, cuaca, perkawinan, hingga kegiatan adat biasanya menyebar melalui interaksi masyarakat di pasar. Oleh karena itu, Pasar Tolo memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar pusat perdagangan. 

E.    Pasar Kuda: Kebanggaan Jeneponto

Salah satu keunikan terbesar Pasar Tolo adalah keberadaan pasar kuda yang terletak di bagian utara kompleks pasar. Pasar ini telah lama menjadi simbol Kabupaten Jeneponto sebagai daerah peternakan kuda terbesar di Sulawesi Selatan.

Keberadaan pasar kuda menjadikan Pasar Tolo dikenal luas hingga ke luar daerah. Setiap pekan, ratusan pedagang dan pembeli datang untuk melakukan transaksi jual beli kuda. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Sekitar 200 pedagang kuda rutin datang ke Pasar Tolo. Mereka berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Jeneponto dan berbagai daerah lainnya seperti Kabupaten Sinjai, Bantaeng, Takalar, Gowa, Makassar, Polewali Mandar, hingga Soppeng.

Berbagai jenis kuda diperdagangkan di pasar ini, antara lain:

1.    Kuda Lokal Jeneponto dan Sulawesi Selatan

Jenis ini paling banyak diminati masyarakat. Kuda lokal dikenal kuat, tahan terhadap iklim setempat, dan memiliki kualitas daging yang baik. Karena keunggulannya, harga kuda lokal umumnya lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya.

2.   Kuda Sumba

Didatangkan dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ukurannya besar, posturnya kokoh, dan kualitas dagingnya dianggap baik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

3.   Kuda Kupang

Jenis ini umumnya berukuran lebih kecil dan kurus dibandingkan kuda lokal maupun kuda Sumba. Harga jualnya relatif lebih murah sehingga menjadi pilihan bagi pembeli dengan anggaran terbatas.

4.   Kuda Flores

Kuda Flores memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan kuda lokal Sulawesi Selatan, baik dari segi ukuran maupun kualitas daging. Harga jualnya juga relatif sebanding.

5.   Kuda Bima

Kuda asal Bima memiliki ukuran tubuh yang besar dan kualitas yang cukup baik. Karakteristiknya sering dibandingkan dengan kuda Sumba sehingga termasuk kategori kuda bernilai tinggi.

F.    Kuliner Khas yang Menggoda Selera

Selain dikenal sebagai pusat perdagangan kuda, Pasar Tolo juga menjadi surga kuliner bagi masyarakat Jeneponto. Di sepanjang pinggir pasar berjejer warung-warung yang menyajikan berbagai makanan khas daerah.

Salah satu yang paling terkenal adalah Gantalak Jarang, kuliner berbahan dasar daging kuda yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat Kelara dan Jeneponto. Aroma masakan yang khas sering kali menggoda para pengunjung yang datang ke pasar.

Setiap hari masyarakat dapat membeli daging kuda segar di kawasan pasar. Daging tersebut kemudian diolah menjadi berbagai menu tradisional yang memiliki cita rasa khas dan digemari masyarakat.

Bagi banyak orang, berkunjung ke Pasar Tolo terasa belum lengkap tanpa menikmati sajian Gantalak Jarang yang dijual di warung-warung sekitar pasar. Kuliner ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berkunjung ke salah satu pasar bersejarah di Turatea.

G.   Pembenahan Pasar pada Masa Modern

Setelah Indonesia merdeka, wilayah bekas Kerajaan Tolo diubah menjadi Kecamatan Kelara. Meskipun sistem kerajaan telah berakhir, Pasar Tolo tetap mempertahankan perannya sebagai pusat ekonomi masyarakat.

Pada tahun 1983, Bupati Jeneponto Drs. H. Palangkei Daeng Lagu melakukan penataan besar-besaran terhadap Pasar Tolo. Pemerintah membangun deretan kios pakaian di bagian tengah pasar, sementara bagian pinggir ditempati pedagang campuran dan warung-warung kuliner.

Pada masa yang sama, Pasar Kuda juga dibenahi dan diresmikan sebagai Pasar Kuda Kabupaten Jeneponto. Kebijakan ini semakin memperkuat posisi Pasar Tolo sebagai pusat perdagangan ternak kuda terbesar di daerah.

Selanjutnya pada tahun 2015, Bupati Jeneponto Drs. H. Ishak Iskandar kembali melakukan renovasi pasar. Berbagai fasilitas diperbaiki untuk meningkatkan kenyamanan pedagang dan pengunjung.

Pemerintah juga membangun Kantor Pengelolaan Pasar Hewan yang bertugas mendata keluar-masuk kuda, memungut retribusi, serta menerbitkan Surat Jaminan Kesehatan Kuda sebagai syarat perdagangan ternak yang sehat dan aman.

H.  Menjaga Warisan Sejarah untuk Masa Depan

Pasar Tolo bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan perjalanan panjang sejarah Kerajaan Tolo dan masyarakat Turatea. Di tempat ini tersimpan jejak perkembangan pemerintahan, perdagangan, peternakan, dan kehidupan sosial masyarakat selama berabad-abad.

Hingga kini Pasar Tolo beroperasi setiap hari Selasa dan Sabtu. Hari Sabtu merupakan hari pasar yang paling ramai karena menjadi waktu utama transaksi berbagai komoditas, terutama kuda. Sementara itu, pada hari Jumat para pedagang sayuran dari daerah pegunungan mulai berdatangan untuk memasok kebutuhan para pedagang eceran.

Keberadaan pasar ini membuktikan bahwa sebuah pasar tradisional dapat bertahan dan berkembang selama ratusan tahun ketika didukung oleh masyarakat yang menjadikannya bagian dari identitas budaya mereka.

Oleh karena itu, Pasar Tolo layak dipandang bukan hanya sebagai pusat perdagangan, melainkan sebagai warisan budaya Kerajaan Tolo yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui Pasar Tolo, masyarakat Jeneponto dapat terus mengenang sejarah panjang leluhurnya sekaligus menjaga denyut ekonomi yang telah menghidupi masyarakat Turatea selama berabad-abad.

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login