
Jeneponto-Jeneponto. Bagi pendirinya, TBM An Nur Palajau
bukan sekadar tempat membaca buku. Ia adalah wadah pengabdian dan perjuangan.
Pengabdian kepada masyarakat melalui layanan literasi, pendidikan, kebudayaan,
dan keagamaan. Sekaligus perjuangan untuk terus belajar, bertumbuh, dan
membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Sebagaimana setiap perjuangan,
perjalanan enam tahun TBM An Nur Palajau tidak pernah lepas dari berbagai
tantangan yang terus menguji komitmen dan keteguhan para pengelolanya.
Beberapa tantangan yang dihadapi sejak
awal ternyata masih bertahan hingga hari ini. Keterbatasan dana operasional
masih menjadi persoalan utama. Minat kunjung dan minat baca masyarakat yang
relatif rendah juga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Di sisi
lain, mengajak remaja dan pemuda untuk aktif berliterasi di taman baca masih
menjadi tantangan yang membutuhkan energi, kesabaran, dan kreativitas yang
besar.
TBM An Nur juga masih menghadapi
keterbatasan jumlah mitra yang dapat menjadi teman berpikir dan berdiskusi
dalam mengembangkan lembaga. Partisipasi pengelola yang belum optimal serta
minimnya ruang atau panggung untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan turut
menjadi tantangan tersendiri. Padahal, berbagi pengalaman sering kali menjadi
sarana belajar sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Di antara berbagai tantangan tersebut,
persoalan yang paling banyak menyita waktu dan pikiran adalah bagaimana
memperoleh sumber dana operasional yang berkelanjutan. Sebab, tanpa dukungan
dana yang memadai, sulit bagi sebuah komunitas untuk menggerakkan program-program
yang lebih banyak, lebih kreatif, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Bukan hanya kegiatan di lingkungan TBM, tetapi juga kegiatan literasi yang
dapat hadir langsung di tengah masyarakat.
Selama bertahun-tahun, harapan
terhadap dukungan Dana Desa sering kali muncul sebagai solusi. Namun perjalanan
waktu mengajarkan bahwa harapan tersebut tidak boleh menjadi sandaran utama.
Demikian pula harapan untuk mendapatkan panggung sebagai narasumber atau
fasilitator yang dapat membantu menopang kebutuhan operasional lembaga.
Harapan-harapan itu perlahan harus diterima sebagai sesuatu yang tidak selalu
dapat diwujudkan.
Begitu pula dengan berbagai bantuan
pemerintah yang pernah diterima. Bantuan tersebut sangat berharga dan patut
disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi dasar keberlangsungan lembaga.
Ketergantungan hanya akan membuat organisasi rentan ketika bantuan tidak lagi
tersedia. Karena itu, TBM An Nur mulai menyadari bahwa masa depan harus
dibangun di atas kemandirian, bukan ketergantungan.
Dalam dua tahun terakhir, TBM An Nur
Palajau juga menerima banyak pujian dan apresiasi. Berbagai prestasi yang
diraih menghadirkan perhatian dari banyak pihak. Namun perjalanan ini
mengajarkan bahwa pujian tidak dapat membayar biaya operasional, tidak dapat
membeli buku, dan tidak dapat menjalankan program. Demikian pula janji-janji
yang tidak pernah diwujudkan. Karena itu, pujian dan janji harus ditempatkan
sebagai pelengkap, bukan tujuan perjuangan.
Memasuki usia enam tahun, TBM An Nur
Palajau menyadari bahwa sudah saatnya meninggalkan berbagai harapan yang selama
ini lebih banyak menjadi mimpi penghibur. Walaupun secara usia masih tergolong
muda, TBM harus belajar menjadi lembaga yang lebih dewasa, lebih realistis, dan
lebih mandiri dalam menentukan arah perjalanannya.
Ke depan, langkah pertama yang akan
dilakukan adalah memperkuat identitas TBM An Nur sebagai perpustakaan
masyarakat yang mandiri. Fokus akan diarahkan pada program-program yang
benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan lembaga. Setiap
kegiatan harus memiliki manfaat yang jelas serta dapat dilaksanakan dengan
sumber daya yang tersedia.
Langkah berikutnya adalah memperkuat
unit-unit usaha pendukung yang dapat membantu menopang operasional lembaga.
Kedai Literasi dan berbagai usaha produktif lainnya akan terus dikembangkan
agar mampu menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil. Walaupun pertumbuhannya
mungkin lambat, kemandirian ekonomi tetap menjadi fondasi penting bagi
keberlanjutan gerakan literasi.
TBM An Nur juga akan memperluas
perannya sebagai komunitas pemerhati dan pelestari budaya lokal. Pengembangan
buku-buku konten budaya, dokumentasi tradisi lokal, penguatan Museum Mini
Budaya Turatea, serta keterlibatan dalam pengusulan Warisan Budaya Takbenda
akan menjadi bagian penting dari agenda lembaga. Bidang kebudayaan dinilai
memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pengabdian sekaligus ruang
kolaborasi yang lebih luas.
Di bidang literasi, TBM akan lebih
aktif menghadirkan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat, termasuk
layanan literasi berbasis komunitas, pelatihan keterampilan, kelas-kelas
belajar, serta kegiatan yang mampu menarik minat anak-anak dan remaja. Pendekatan
yang lebih kreatif dan adaptif akan terus dikembangkan agar literasi tidak
dipandang sebagai kegiatan yang membosankan.
Pada akhirnya, memasuki tahun ketujuh,
TBM An Nur Palajau memilih untuk tidak lagi terlalu sibuk menunggu bantuan,
menunggu undangan, atau menunggu perhatian dari pihak lain. Fokus utama adalah
bekerja dengan apa yang dimiliki hari ini, memperkuat apa yang bisa dilakukan,
dan mensyukuri setiap kemajuan sekecil apa pun. Sebab sejarah telah membuktikan
bahwa selama enam tahun terakhir, TBM An Nur mampu bertahan bukan karena
besarnya dukungan yang diterima, melainkan karena keteguhan untuk terus menyala
di tengah segala keterbatasan. Dan selama semangat itu tetap hidup, harapan
baru akan selalu ada.(Els@h).



