Sabtu, 6 Juni 2026 | Gemaliterasi.Com

Enam Tahun Menyala, TBM An Nur Palajau dalam Tantangan Lama dan Harapan Baru

Oleh: Ella' Sahabuddin (Founder TBM An Nur Palajau)
Rabu, 3 Juni 2026 11
Gemaliterasi.Com

Jeneponto-Jeneponto. Bagi pendirinya, TBM An Nur Palajau bukan sekadar tempat membaca buku. Ia adalah wadah pengabdian dan perjuangan. Pengabdian kepada masyarakat melalui layanan literasi, pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Sekaligus perjuangan untuk terus belajar, bertumbuh, dan membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Sebagaimana setiap perjuangan, perjalanan enam tahun TBM An Nur Palajau tidak pernah lepas dari berbagai tantangan yang terus menguji komitmen dan keteguhan para pengelolanya.

Beberapa tantangan yang dihadapi sejak awal ternyata masih bertahan hingga hari ini. Keterbatasan dana operasional masih menjadi persoalan utama. Minat kunjung dan minat baca masyarakat yang relatif rendah juga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Di sisi lain, mengajak remaja dan pemuda untuk aktif berliterasi di taman baca masih menjadi tantangan yang membutuhkan energi, kesabaran, dan kreativitas yang besar.

TBM An Nur juga masih menghadapi keterbatasan jumlah mitra yang dapat menjadi teman berpikir dan berdiskusi dalam mengembangkan lembaga. Partisipasi pengelola yang belum optimal serta minimnya ruang atau panggung untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan turut menjadi tantangan tersendiri. Padahal, berbagi pengalaman sering kali menjadi sarana belajar sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Di antara berbagai tantangan tersebut, persoalan yang paling banyak menyita waktu dan pikiran adalah bagaimana memperoleh sumber dana operasional yang berkelanjutan. Sebab, tanpa dukungan dana yang memadai, sulit bagi sebuah komunitas untuk menggerakkan program-program yang lebih banyak, lebih kreatif, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Bukan hanya kegiatan di lingkungan TBM, tetapi juga kegiatan literasi yang dapat hadir langsung di tengah masyarakat.

Selama bertahun-tahun, harapan terhadap dukungan Dana Desa sering kali muncul sebagai solusi. Namun perjalanan waktu mengajarkan bahwa harapan tersebut tidak boleh menjadi sandaran utama. Demikian pula harapan untuk mendapatkan panggung sebagai narasumber atau fasilitator yang dapat membantu menopang kebutuhan operasional lembaga. Harapan-harapan itu perlahan harus diterima sebagai sesuatu yang tidak selalu dapat diwujudkan.

Begitu pula dengan berbagai bantuan pemerintah yang pernah diterima. Bantuan tersebut sangat berharga dan patut disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi dasar keberlangsungan lembaga. Ketergantungan hanya akan membuat organisasi rentan ketika bantuan tidak lagi tersedia. Karena itu, TBM An Nur mulai menyadari bahwa masa depan harus dibangun di atas kemandirian, bukan ketergantungan.

Dalam dua tahun terakhir, TBM An Nur Palajau juga menerima banyak pujian dan apresiasi. Berbagai prestasi yang diraih menghadirkan perhatian dari banyak pihak. Namun perjalanan ini mengajarkan bahwa pujian tidak dapat membayar biaya operasional, tidak dapat membeli buku, dan tidak dapat menjalankan program. Demikian pula janji-janji yang tidak pernah diwujudkan. Karena itu, pujian dan janji harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan tujuan perjuangan.

Memasuki usia enam tahun, TBM An Nur Palajau menyadari bahwa sudah saatnya meninggalkan berbagai harapan yang selama ini lebih banyak menjadi mimpi penghibur. Walaupun secara usia masih tergolong muda, TBM harus belajar menjadi lembaga yang lebih dewasa, lebih realistis, dan lebih mandiri dalam menentukan arah perjalanannya.

Ke depan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memperkuat identitas TBM An Nur sebagai perpustakaan masyarakat yang mandiri. Fokus akan diarahkan pada program-program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan lembaga. Setiap kegiatan harus memiliki manfaat yang jelas serta dapat dilaksanakan dengan sumber daya yang tersedia.

Langkah berikutnya adalah memperkuat unit-unit usaha pendukung yang dapat membantu menopang operasional lembaga. Kedai Literasi dan berbagai usaha produktif lainnya akan terus dikembangkan agar mampu menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil. Walaupun pertumbuhannya mungkin lambat, kemandirian ekonomi tetap menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan gerakan literasi.

TBM An Nur juga akan memperluas perannya sebagai komunitas pemerhati dan pelestari budaya lokal. Pengembangan buku-buku konten budaya, dokumentasi tradisi lokal, penguatan Museum Mini Budaya Turatea, serta keterlibatan dalam pengusulan Warisan Budaya Takbenda akan menjadi bagian penting dari agenda lembaga. Bidang kebudayaan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pengabdian sekaligus ruang kolaborasi yang lebih luas.

Di bidang literasi, TBM akan lebih aktif menghadirkan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat, termasuk layanan literasi berbasis komunitas, pelatihan keterampilan, kelas-kelas belajar, serta kegiatan yang mampu menarik minat anak-anak dan remaja. Pendekatan yang lebih kreatif dan adaptif akan terus dikembangkan agar literasi tidak dipandang sebagai kegiatan yang membosankan.

Pada akhirnya, memasuki tahun ketujuh, TBM An Nur Palajau memilih untuk tidak lagi terlalu sibuk menunggu bantuan, menunggu undangan, atau menunggu perhatian dari pihak lain. Fokus utama adalah bekerja dengan apa yang dimiliki hari ini, memperkuat apa yang bisa dilakukan, dan mensyukuri setiap kemajuan sekecil apa pun. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa selama enam tahun terakhir, TBM An Nur mampu bertahan bukan karena besarnya dukungan yang diterima, melainkan karena keteguhan untuk terus menyala di tengah segala keterbatasan. Dan selama semangat itu tetap hidup, harapan baru akan selalu ada.(Els@h). 

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login