
Menyalakan Cahaya di Tengah Keterbatasan
Enam tahun lalu, TBM An Nur Palajau
lahir dari sebuah balai-balai sederhana di pekarangan rumah. Tidak ada gedung
megah, tidak ada anggaran tetap, tidak ada jaminan akan bertahan lama. Yang ada
hanyalah niat untuk mengabdi kepada masyarakat melalui literasi. Enam tahun
kemudian, TBM An Nur masih berdiri. Masih hidup. Masih berusaha menyala.
Bertahannya TBM An Nur selama enam
tahun adalah prestasi tersendiri. Banyak komunitas lahir dengan semangat besar,
namun tidak sedikit yang kemudian berhenti karena berbagai alasan. TBM An Nur
berhasil melewati fase-fase sulit yang sering menjadi penyebab matinya sebuah
komunitas. Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Usia enam tahun menjadi
momentum untuk melakukan evaluasi dan refleksi secara jujur.
Apa yang Berhasil Dicapai?
Dari sisi kelembagaan, TBM An Nur
berhasil membangun identitas sebagai komunitas literasi yang tidak hanya
bergerak di bidang perpustakaan. Layanan berkembang menjadi kegiatan budaya,
kajian Islam, bimbingan belajar, penerbitan, hingga pelestarian budaya lokal.
Dalam bidang literasi, TBM berhasil
menjaga keberlangsungan layanan baca selama enam tahun tanpa pernah benar-benar
berhenti beroperasi. Ini bukan pekerjaan mudah mengingat keterbatasan sumber
daya yang dimiliki.
Dalam bidang kebudayaan, TBM berhasil
melampaui peran taman baca pada umumnya. Kajian budaya lokal, penulisan buku
konten budaya, dokumentasi tradisi, pembangunan Museum Mini Budaya Turatea,
keterlibatan dalam pengusulan Warisan Budaya Takbenda, hingga produksi film
dokumenter Attannung Tope menunjukkan bahwa TBM telah menjadi bagian dari
gerakan pemajuan kebudayaan di Kabupaten Jeneponto.
Dari sisi prestasi, dua tahun terakhir
menjadi periode yang cukup membanggakan. KPI mencapai 100 persen. TBM menerima
Tugu Titik Baca dari Perpustakaan Nasional RI. Menjadi Juara I Lomba
Perpustakaan Desa/Kelurahan tingkat Kabupaten Jeneponto dan Juara Harapan III
tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Founder menerima penghargaan Nugra Jasa
Dharma Pustaloka dan TBM memperoleh predikat Mitra Jempolan Perpustakaan
Nasional RI.
Semua capaian tersebut menunjukkan
bahwa kerja keras yang dilakukan selama ini mendapatkan pengakuan dari berbagai
pihak.
Apa yang Belum Berhasil?
Di balik berbagai prestasi, masih
banyak persoalan yang belum terselesaikan.
Masalah terbesar adalah keberlanjutan
pendanaan. Selama enam tahun, TBM belum memiliki sumber pendapatan tetap yang
mampu menopang operasional secara berkelanjutan. Sebagian besar kegiatan masih
bergantung pada swadaya pengelola, bantuan sesekali, dan pengorbanan keluarga.
TBM juga belum berhasil meningkatkan
minat kunjung dan minat baca masyarakat secara signifikan. Pengunjung aktif
masih didominasi kelompok anak-anak tertentu. Sementara keterlibatan masyarakat
yang lebih luas masih perlu diperkuat.
Keterlibatan remaja dan pemuda menjadi
tantangan yang belum terpecahkan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum
mampu menghadirkan komunitas pemuda literasi yang kuat dan berkelanjutan.
Dari sisi organisasi, jumlah pengelola
aktif masih sangat terbatas. Banyak pekerjaan masih bertumpu pada orang-orang
yang sama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan dan memperlambat
pengembangan lembaga.
TBM juga belum berhasil membangun
jaringan mitra strategis yang dapat menjadi teman berpikir, teman
berkolaborasi, sekaligus pendukung pengembangan program.
Pelajaran Terbesar Selama 6 Tahun
Salah satu pelajaran paling berharga
adalah bahwa pujian tidak selalu menghasilkan dukungan nyata.
TBM An Nur menerima banyak apresiasi,
penghargaan, dan ucapan selamat. Namun perjalanan enam tahun mengajarkan bahwa
pujian tidak bisa membeli buku, membayar listrik, membeli alat tulis, atau
membiayai kegiatan.
Pelajaran berikutnya adalah bahwa
ketergantungan pada bantuan bukanlah jalan terbaik. Harapan terhadap Dana Desa,
bantuan lembaga, atau program pemerintah sering kali tidak berjalan sesuai
harapan. Karena itu, masa depan TBM harus dibangun di atas fondasi kemandirian.
TBM juga belajar bahwa prestasi tidak
selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan lembaga. Banyak penghargaan telah
diraih, tetapi tantangan operasional tetap ada. Karena itu, penghargaan harus
dipandang sebagai amanah, bukan tujuan akhir.
Siapa yang Menjadi Kekuatan Utama?
Jika ditanya apa yang membuat TBM An
Nur tetap hidup hingga hari ini, jawabannya bukanlah bantuan dana, bukan
penghargaan, dan bukan fasilitas.
Kekuatan terbesar TBM adalah keluarga.
Dukungan Daeng Layu sebagai istri
sekaligus Ketua TBM menjadi faktor yang sangat menentukan. Pengorbanan yang
diberikan selama enam tahun, mulai dari menyediakan ruang, mengurangi belanja
rumah tangga untuk operasional, hingga mendampingi setiap perjuangan, menjadi
fondasi yang membuat TBM tetap bertahan.
Kekuatan lainnya adalah anak-anak yang
masih setia datang membaca, belajar, bermain, dan mengikuti kegiatan. Mereka
adalah alasan utama mengapa TBM harus terus hidup.
Harapan dan Arah Tahun Ketujuh
Memasuki tahun ketujuh, TBM An Nur
perlu lebih realistis dan lebih mandiri.
Fokus utama bukan lagi mengejar
pengakuan, melainkan memperkuat manfaat nyata bagi masyarakat. Bukan lagi
menunggu bantuan datang, tetapi membangun sumber daya yang dimiliki sendiri.
TBM perlu mengembangkan usaha
pendukung yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan. Memperkuat layanan
budaya, penerbitan, pelatihan, dan program berbasis komunitas yang memiliki
dampak langsung bagi masyarakat.
Di bidang kebudayaan, TBM memiliki
peluang besar untuk menjadi pusat dokumentasi dan pelestarian budaya Turatea.
Potensi ini perlu dikembangkan secara serius karena menjadi keunikan yang tidak
dimiliki banyak taman baca lainnya.
Yang tidak kalah penting, TBM perlu
lebih banyak mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan praktik baik yang telah
dilakukan selama ini agar dapat menjadi sumber belajar bagi komunitas lain.
Penutup
Enam tahun bukanlah perjalanan yang
pendek. Banyak air mata, kekecewaan, pengorbanan, dan harapan yang telah
dilalui. Namun enam tahun juga membuktikan bahwa TBM An Nur Palajau memiliki
daya tahan yang kuat.
TBM ini mungkin tidak memiliki gedung
besar. Tidak memiliki anggaran tetap. Tidak memiliki banyak pengelola. Tetapi
TBM ini memiliki sesuatu yang lebih penting: semangat pengabdian yang belum
padam.
Selama semangat itu tetap hidup,
selama masih ada buku yang dibaca, anak-anak yang datang belajar, budaya yang
didokumentasikan, dan orang-orang yang percaya bahwa literasi dapat mengubah
kehidupan, maka TBM An Nur Palajau akan terus menyala.
Karena sesungguhnya keberhasilan
terbesar TBM An Nur bukanlah penghargaan yang terpajang di lemari, melainkan
kemampuannya bertahan dan tetap mengabdi ketika banyak alasan untuk menyerah
justru datang silih berganti.



