Sabtu, 6 Juni 2026 | Gemaliterasi.Com

EVALUASI DAN REFLEKSI 6 TAHUN TBM AN NUR PALAJAU

Oleh: Ella' Sahabuddin (Founder TBM An Nur Palajau)
Kamis, 4 Juni 2026 6
Gemaliterasi.Com

Menyalakan Cahaya di Tengah Keterbatasan

Enam tahun lalu, TBM An Nur Palajau lahir dari sebuah balai-balai sederhana di pekarangan rumah. Tidak ada gedung megah, tidak ada anggaran tetap, tidak ada jaminan akan bertahan lama. Yang ada hanyalah niat untuk mengabdi kepada masyarakat melalui literasi. Enam tahun kemudian, TBM An Nur masih berdiri. Masih hidup. Masih berusaha menyala.

Bertahannya TBM An Nur selama enam tahun adalah prestasi tersendiri. Banyak komunitas lahir dengan semangat besar, namun tidak sedikit yang kemudian berhenti karena berbagai alasan. TBM An Nur berhasil melewati fase-fase sulit yang sering menjadi penyebab matinya sebuah komunitas. Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Usia enam tahun menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan refleksi secara jujur.

Apa yang Berhasil Dicapai?

Dari sisi kelembagaan, TBM An Nur berhasil membangun identitas sebagai komunitas literasi yang tidak hanya bergerak di bidang perpustakaan. Layanan berkembang menjadi kegiatan budaya, kajian Islam, bimbingan belajar, penerbitan, hingga pelestarian budaya lokal.

Dalam bidang literasi, TBM berhasil menjaga keberlangsungan layanan baca selama enam tahun tanpa pernah benar-benar berhenti beroperasi. Ini bukan pekerjaan mudah mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki.

Dalam bidang kebudayaan, TBM berhasil melampaui peran taman baca pada umumnya. Kajian budaya lokal, penulisan buku konten budaya, dokumentasi tradisi, pembangunan Museum Mini Budaya Turatea, keterlibatan dalam pengusulan Warisan Budaya Takbenda, hingga produksi film dokumenter Attannung Tope menunjukkan bahwa TBM telah menjadi bagian dari gerakan pemajuan kebudayaan di Kabupaten Jeneponto.

Dari sisi prestasi, dua tahun terakhir menjadi periode yang cukup membanggakan. KPI mencapai 100 persen. TBM menerima Tugu Titik Baca dari Perpustakaan Nasional RI. Menjadi Juara I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan tingkat Kabupaten Jeneponto dan Juara Harapan III tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Founder menerima penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka dan TBM memperoleh predikat Mitra Jempolan Perpustakaan Nasional RI.

Semua capaian tersebut menunjukkan bahwa kerja keras yang dilakukan selama ini mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.

Apa yang Belum Berhasil?

Di balik berbagai prestasi, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan.

Masalah terbesar adalah keberlanjutan pendanaan. Selama enam tahun, TBM belum memiliki sumber pendapatan tetap yang mampu menopang operasional secara berkelanjutan. Sebagian besar kegiatan masih bergantung pada swadaya pengelola, bantuan sesekali, dan pengorbanan keluarga.

TBM juga belum berhasil meningkatkan minat kunjung dan minat baca masyarakat secara signifikan. Pengunjung aktif masih didominasi kelompok anak-anak tertentu. Sementara keterlibatan masyarakat yang lebih luas masih perlu diperkuat.

Keterlibatan remaja dan pemuda menjadi tantangan yang belum terpecahkan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum mampu menghadirkan komunitas pemuda literasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dari sisi organisasi, jumlah pengelola aktif masih sangat terbatas. Banyak pekerjaan masih bertumpu pada orang-orang yang sama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan dan memperlambat pengembangan lembaga.

TBM juga belum berhasil membangun jaringan mitra strategis yang dapat menjadi teman berpikir, teman berkolaborasi, sekaligus pendukung pengembangan program.

Pelajaran Terbesar Selama 6 Tahun

Salah satu pelajaran paling berharga adalah bahwa pujian tidak selalu menghasilkan dukungan nyata.

TBM An Nur menerima banyak apresiasi, penghargaan, dan ucapan selamat. Namun perjalanan enam tahun mengajarkan bahwa pujian tidak bisa membeli buku, membayar listrik, membeli alat tulis, atau membiayai kegiatan.

Pelajaran berikutnya adalah bahwa ketergantungan pada bantuan bukanlah jalan terbaik. Harapan terhadap Dana Desa, bantuan lembaga, atau program pemerintah sering kali tidak berjalan sesuai harapan. Karena itu, masa depan TBM harus dibangun di atas fondasi kemandirian.

TBM juga belajar bahwa prestasi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan lembaga. Banyak penghargaan telah diraih, tetapi tantangan operasional tetap ada. Karena itu, penghargaan harus dipandang sebagai amanah, bukan tujuan akhir.

Siapa yang Menjadi Kekuatan Utama?

Jika ditanya apa yang membuat TBM An Nur tetap hidup hingga hari ini, jawabannya bukanlah bantuan dana, bukan penghargaan, dan bukan fasilitas.

Kekuatan terbesar TBM adalah keluarga.

Dukungan Daeng Layu sebagai istri sekaligus Ketua TBM menjadi faktor yang sangat menentukan. Pengorbanan yang diberikan selama enam tahun, mulai dari menyediakan ruang, mengurangi belanja rumah tangga untuk operasional, hingga mendampingi setiap perjuangan, menjadi fondasi yang membuat TBM tetap bertahan.

Kekuatan lainnya adalah anak-anak yang masih setia datang membaca, belajar, bermain, dan mengikuti kegiatan. Mereka adalah alasan utama mengapa TBM harus terus hidup.

Harapan dan Arah Tahun Ketujuh

Memasuki tahun ketujuh, TBM An Nur perlu lebih realistis dan lebih mandiri.

Fokus utama bukan lagi mengejar pengakuan, melainkan memperkuat manfaat nyata bagi masyarakat. Bukan lagi menunggu bantuan datang, tetapi membangun sumber daya yang dimiliki sendiri.

TBM perlu mengembangkan usaha pendukung yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan. Memperkuat layanan budaya, penerbitan, pelatihan, dan program berbasis komunitas yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

Di bidang kebudayaan, TBM memiliki peluang besar untuk menjadi pusat dokumentasi dan pelestarian budaya Turatea. Potensi ini perlu dikembangkan secara serius karena menjadi keunikan yang tidak dimiliki banyak taman baca lainnya.

Yang tidak kalah penting, TBM perlu lebih banyak mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan praktik baik yang telah dilakukan selama ini agar dapat menjadi sumber belajar bagi komunitas lain.

Penutup

Enam tahun bukanlah perjalanan yang pendek. Banyak air mata, kekecewaan, pengorbanan, dan harapan yang telah dilalui. Namun enam tahun juga membuktikan bahwa TBM An Nur Palajau memiliki daya tahan yang kuat.

TBM ini mungkin tidak memiliki gedung besar. Tidak memiliki anggaran tetap. Tidak memiliki banyak pengelola. Tetapi TBM ini memiliki sesuatu yang lebih penting: semangat pengabdian yang belum padam.

Selama semangat itu tetap hidup, selama masih ada buku yang dibaca, anak-anak yang datang belajar, budaya yang didokumentasikan, dan orang-orang yang percaya bahwa literasi dapat mengubah kehidupan, maka TBM An Nur Palajau akan terus menyala.

Karena sesungguhnya keberhasilan terbesar TBM An Nur bukanlah penghargaan yang terpajang di lemari, melainkan kemampuannya bertahan dan tetap mengabdi ketika banyak alasan untuk menyerah justru datang silih berganti.

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login