
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Memasuki usia enam tahun, TBM An Nur Palajau terus memperkuat perannya
sebagai komunitas literasi yang tidak hanya fokus pada layanan perpustakaan,
tetapi juga aktif dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan lokal. Berbagai
program yang dijalankan menunjukkan komitmen lembaga ini untuk membangun
masyarakat yang cerdas, beriman, berbudaya, dan berakhlak mulia.
Sejak didirikan, TBM An Nur Palajau
mengembangkan layanan yang beragam. Selain layanan perpustakaan, komunitas ini
juga menjalankan Sanggar Budaya, Kajian Islam, Penerbitan, serta Bimbingan
Belajar bagi masyarakat. Seluruh layanan tersebut merupakan implementasi dari
visi lembaga, yaitu “Menciptakan masyarakat yang literat, beriman,
berbudaya, dan berakhlak mulia.”
Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, TBM An Nur memandang bahwa literasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Literasi menjadi sarana memahami dan mengembangkan pengetahuan, sementara kebudayaan menjadi identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebagai komunitas yang bergerak di
bidang pelestarian budaya lokal, TBM An Nur Palajau telah melaksanakan berbagai
kegiatan pemajuan kebudayaan. Salah satu aktivitas yang rutin dilakukan adalah
kajian budaya lokal untuk menggali, mendokumentasikan, dan memahami berbagai
warisan budaya masyarakat Turatea yang masih hidup di tengah masyarakat.
Selain melakukan kajian, pengelola
juga aktif menulis dan menerbitkan berbagai buku yang memuat konten budaya
lokal. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang sebelumnya hanya diwariskan
secara lisan dapat terdokumentasikan dalam bentuk tulisan sehingga lebih mudah
dipelajari dan diwariskan kepada generasi muda.
Upaya pelestarian budaya juga dilakukan melalui kegiatan dokumentasi dan publikasi budaya lokal. Berbagai tradisi, kesenian, kuliner, permainan rakyat, hingga pengetahuan tradisional didokumentasikan dan dipublikasikan melalui buku, media sosial, maupun berbagai media informasi lainnya.
TBM An Nur juga secara aktif
menyelenggarakan pelatihan budaya sebagai sarana transfer pengetahuan kepada
masyarakat, khususnya generasi muda. Kegiatan ini bertujuan agar nilai-nilai
budaya lokal tidak hilang ditelan zaman, tetapi tetap hidup dan berkembang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Komitmen terhadap pemajuan kebudayaan
juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam proses pengusulan Warisan Budaya
Takbenda (WBTB). Salah satu kontribusi yang telah dilakukan adalah ikut serta
dalam proses pengusulan WBTB Gantalak Jarang sebagai bagian dari upaya
pelestarian warisan budaya Kabupaten Jeneponto.
Tidak hanya itu, TBM An Nur Palajau
juga membangun Museum Mini Budaya Turatea yang berfungsi sebagai ruang edukasi
bagi masyarakat. Museum mini tersebut menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan
dengan kehidupan, tradisi, dan budaya masyarakat Turatea sehingga dapat menjadi
media pembelajaran bagi pengunjung.
Dedikasi dalam bidang kebudayaan
mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Pada tahun 2023, TBM An Nur Palajau
memperoleh Dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan untuk produksi film dokumenter Attannung
Tope, sebuah karya yang mendokumentasikan tradisi menenun khas masyarakat
Turatea. Film tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan dan
melestarikan warisan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Selanjutnya pada tahun 2025, TBM An
Nur kembali memperoleh Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian
Kebudayaan Wilayah XIX melalui kegiatan Lokakarya Digitalisasi Objek
Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas
masyarakat dalam mendokumentasikan dan mengarsipkan berbagai objek pemajuan
kebudayaan menggunakan teknologi digital.
Pengelola TBM An Nur Palajau
menegaskan bahwa memasuki usia keenam tahun, lembaga ini akan terus memperkuat
perannya sebagai komunitas literasi dan budaya. “Kami berkomitmen menjadikan
TBM An Nur sebagai komunitas yang aktif dalam kegiatan pemajuan kebudayaan di
Kabupaten Jeneponto. Ke depan kami ingin terus menghasilkan karya-karya budaya
berupa buku-buku konten lokal, dokumentasi budaya, serta berkontribusi dalam
pengusulan Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Jeneponto,” ujarnya. Dengan
semangat tersebut, TBM An Nur Palajau berharap dapat terus menjadi ruang
belajar, ruang berkarya, dan ruang pelestarian budaya bagi masyarakat.



