
Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)
merupakan salah satu pesta demokrasi yang paling dekat dengan masyarakat.
Melalui Pilkades, warga desa menentukan siapa yang akan memimpin pembangunan
selama beberapa tahun ke depan. Namun di balik dinamika politik desa, terdapat
satu pertanyaan yang jarang dibahas: bagaimana nasib lembaga-lembaga sosial
desa setelah Pilkades berakhir?
Salah satu lembaga yang sering
terdampak adalah perpustakaan desa.
Idealnya, perpustakaan desa merupakan
aset masyarakat yang keberadaannya tidak bergantung pada siapa yang menjadi
kepala desa. Perpustakaan dibangun untuk melayani seluruh warga, meningkatkan
literasi, mendukung pendidikan, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia
desa. Karena itu, keberlanjutan perpustakaan seharusnya menjadi kepentingan
bersama yang melampaui kepentingan politik.
Namun dalam praktiknya, kondisi
tersebut tidak selalu terjadi.
Pengalaman di sejumlah desa
menunjukkan bahwa pergantian kepala desa sering kali ikut memengaruhi
keberlangsungan perpustakaan desa. Pengurus yang sebelumnya aktif dapat
kehilangan dukungan. Program yang sudah berjalan dapat berhenti. Bahkan sarana
dan prasarana yang sebelumnya digunakan untuk pelayanan perpustakaan dapat
berubah fungsi karena adanya perubahan kebijakan pemerintahan desa.
Fenomena ini menarik untuk dicermati.
Pada tahun 2023, terdapat beberapa perpustakaan desa di Kabupaten Jeneponto
yang menerima bantuan komputer dan buku. Bantuan tersebut diharapkan menjadi
modal untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan kepada masyarakat. Namun
setelah Pilkades berlangsung, sebagian perpustakaan menghadapi berbagai
kendala.
Di beberapa kasus, pengelola
perpustakaan sebelumnya merupakan perangkat desa yang kemudian tidak lagi
menjabat setelah pergantian pemerintahan desa. Perubahan tersebut berdampak
pada pengelolaan perpustakaan. Ada yang mengalami penurunan aktivitas, ada yang
kesulitan melanjutkan program, bahkan ada yang kehilangan sarana pendukung
karena kembali digunakan oleh pemerintah desa untuk kebutuhan lain.
Akibatnya, perpustakaan yang
sebelumnya aktif mengalami penurunan kinerja. Hal ini terlihat dari menurunnya
capaian indikator kinerja perpustakaan yang sebelumnya telah dibangun dengan
susah payah.
Di sisi lain, terdapat pula contoh
perpustakaan desa yang mampu mempertahankan kinerjanya. Salah satu faktor yang
terlihat adalah adanya kesinambungan dukungan dari pemerintah desa. Ketika
kepala desa terpilih kembali dan kebijakan terhadap perpustakaan tetap
berlanjut, maka program yang sudah berjalan cenderung lebih mudah dipertahankan
dan dikembangkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
kelangsungan hidup perpustakaan desa masih sangat dipengaruhi oleh faktor
politik dan kebijakan pemerintahan desa. Padahal semestinya perpustakaan
ditempatkan sebagai lembaga pelayanan publik yang keberadaannya tidak bergantung
pada pergantian kekuasaan.
Jika perpustakaan terlalu bergantung
pada figur tertentu, maka setiap pergantian kepala desa berpotensi menjadi
ancaman bagi keberlangsungan layanan. Padahal pembangunan literasi membutuhkan
waktu yang panjang. Membentuk budaya baca tidak bisa dilakukan hanya dalam satu
atau dua tahun. Dibutuhkan konsistensi, keberlanjutan program, dan dukungan
yang berkesinambungan.
Karena itu, perlu ada upaya untuk
memperkuat kelembagaan perpustakaan desa agar lebih mandiri dan tidak mudah
terguncang oleh perubahan politik. Salah satunya melalui regulasi desa yang
menjamin keberlangsungan perpustakaan sebagai layanan dasar masyarakat. Selain
itu, perlu dibangun kesadaran bahwa perpustakaan bukan milik kepala desa, bukan
milik pengelola, melainkan milik seluruh warga desa.
Pilkades akan terus berlangsung dari
periode ke periode. Kepala desa akan datang dan berganti. Namun perpustakaan
desa seharusnya tetap hidup dan berkembang. Sebab yang sedang dibangun bukan
sekadar sebuah ruangan berisi buku, melainkan masa depan masyarakat desa itu
sendiri.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan
sebuah desa bukan hanya pada pembangunan fisik yang tampak hari ini, tetapi
juga pada kemampuan desa menyiapkan generasi yang cerdas dan berpengetahuan
untuk menghadapi masa depan. Di sinilah perpustakaan desa memiliki peran yang
tidak tergantikan.
Karena itu, siapa pun yang terpilih
dalam Pilkades, semestinya mewarisi satu komitmen yang sama: menjaga agar
cahaya literasi tetap menyala di desanya.



