Sabtu, 6 Juni 2026 | Gemaliterasi.Com

Pilkades dan Kelangsungan Hidup Perpustakaan Desa

Oleh: Ells' Sahabuddin (Founder TBM An Nur Palajau-Jeneponto)
Kamis, 4 Juni 2026 19
Gemaliterasi.Com

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) merupakan salah satu pesta demokrasi yang paling dekat dengan masyarakat. Melalui Pilkades, warga desa menentukan siapa yang akan memimpin pembangunan selama beberapa tahun ke depan. Namun di balik dinamika politik desa, terdapat satu pertanyaan yang jarang dibahas: bagaimana nasib lembaga-lembaga sosial desa setelah Pilkades berakhir?

Salah satu lembaga yang sering terdampak adalah perpustakaan desa.

Idealnya, perpustakaan desa merupakan aset masyarakat yang keberadaannya tidak bergantung pada siapa yang menjadi kepala desa. Perpustakaan dibangun untuk melayani seluruh warga, meningkatkan literasi, mendukung pendidikan, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia desa. Karena itu, keberlanjutan perpustakaan seharusnya menjadi kepentingan bersama yang melampaui kepentingan politik.

Namun dalam praktiknya, kondisi tersebut tidak selalu terjadi.

Pengalaman di sejumlah desa menunjukkan bahwa pergantian kepala desa sering kali ikut memengaruhi keberlangsungan perpustakaan desa. Pengurus yang sebelumnya aktif dapat kehilangan dukungan. Program yang sudah berjalan dapat berhenti. Bahkan sarana dan prasarana yang sebelumnya digunakan untuk pelayanan perpustakaan dapat berubah fungsi karena adanya perubahan kebijakan pemerintahan desa.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Pada tahun 2023, terdapat beberapa perpustakaan desa di Kabupaten Jeneponto yang menerima bantuan komputer dan buku. Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan kepada masyarakat. Namun setelah Pilkades berlangsung, sebagian perpustakaan menghadapi berbagai kendala.

Di beberapa kasus, pengelola perpustakaan sebelumnya merupakan perangkat desa yang kemudian tidak lagi menjabat setelah pergantian pemerintahan desa. Perubahan tersebut berdampak pada pengelolaan perpustakaan. Ada yang mengalami penurunan aktivitas, ada yang kesulitan melanjutkan program, bahkan ada yang kehilangan sarana pendukung karena kembali digunakan oleh pemerintah desa untuk kebutuhan lain.

Akibatnya, perpustakaan yang sebelumnya aktif mengalami penurunan kinerja. Hal ini terlihat dari menurunnya capaian indikator kinerja perpustakaan yang sebelumnya telah dibangun dengan susah payah.

Di sisi lain, terdapat pula contoh perpustakaan desa yang mampu mempertahankan kinerjanya. Salah satu faktor yang terlihat adalah adanya kesinambungan dukungan dari pemerintah desa. Ketika kepala desa terpilih kembali dan kebijakan terhadap perpustakaan tetap berlanjut, maka program yang sudah berjalan cenderung lebih mudah dipertahankan dan dikembangkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kelangsungan hidup perpustakaan desa masih sangat dipengaruhi oleh faktor politik dan kebijakan pemerintahan desa. Padahal semestinya perpustakaan ditempatkan sebagai lembaga pelayanan publik yang keberadaannya tidak bergantung pada pergantian kekuasaan.

Jika perpustakaan terlalu bergantung pada figur tertentu, maka setiap pergantian kepala desa berpotensi menjadi ancaman bagi keberlangsungan layanan. Padahal pembangunan literasi membutuhkan waktu yang panjang. Membentuk budaya baca tidak bisa dilakukan hanya dalam satu atau dua tahun. Dibutuhkan konsistensi, keberlanjutan program, dan dukungan yang berkesinambungan.

Karena itu, perlu ada upaya untuk memperkuat kelembagaan perpustakaan desa agar lebih mandiri dan tidak mudah terguncang oleh perubahan politik. Salah satunya melalui regulasi desa yang menjamin keberlangsungan perpustakaan sebagai layanan dasar masyarakat. Selain itu, perlu dibangun kesadaran bahwa perpustakaan bukan milik kepala desa, bukan milik pengelola, melainkan milik seluruh warga desa.

Pilkades akan terus berlangsung dari periode ke periode. Kepala desa akan datang dan berganti. Namun perpustakaan desa seharusnya tetap hidup dan berkembang. Sebab yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah ruangan berisi buku, melainkan masa depan masyarakat desa itu sendiri.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah desa bukan hanya pada pembangunan fisik yang tampak hari ini, tetapi juga pada kemampuan desa menyiapkan generasi yang cerdas dan berpengetahuan untuk menghadapi masa depan. Di sinilah perpustakaan desa memiliki peran yang tidak tergantikan.

Karena itu, siapa pun yang terpilih dalam Pilkades, semestinya mewarisi satu komitmen yang sama: menjaga agar cahaya literasi tetap menyala di desanya.

Bagikan:
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
Login