dia dulu adalah rakit
dari pusat mata air
dan pusar air mata ibu
lalu menyusur
dan menyusu kepada sungai
Harus
atau menantang arus
itu pilihan menuju muara
menuju alunan baru
alun yang menderu
Laut,
dia sekarang adalah perahu
yang banyak tahu
tapi tak mampu melihat angin
buta kepada tepian
gelombang yang dia menangkan
malah membuatnya terombang ambing
mengambang
menuju pulau yang jauh
entah
anta-berantah
Hingga kehilangan jangkar
akarnya di pelabuhan
kepada Tuhan
Laut,
dia ingin jadi kapal pesiar
merasa besar
tersiar :
bahwa
ombak tidak akan membuatnya retak,
bahwa
gemuruh tidak akan membuatnya runtuh,
bahwa
dan tertawa
wah
wah
wah
Laut,
dia angan jadi kapal terbang
mulai bimbang
berlubang
hingga tumbang