
Jeneponto-Gemaliterasi.Com. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Provinsi Sulawesi Selatan baru telah mengirim hasil Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan
Tingkat Provinsi Sulawesi. Dalam Berita Acara Nomor: 041.16/1763/DISPUS_ARSIP
ditetapkan 6 pemenang lomba, yaitu Juara I Perpustakaan Mandiri, Desa Bocu, Kabupaten
Bone; Juara II Perpustakaan Macakka, Desa Tellolippoe, Kabupaten Suppeng; Juara
III Perpustakaan Mapajange, Desa Sukamaju, Kabupaten Sinjai; Juara Harapan 1
Perpustakaan Holistik Salassa, Desa Pasui Kabupaten Enrekang; Juara Harapan II
Perpustakaan Appakabajik, Desa Salenrang, Kabupaten Maros; dan Perpustakaan An
Nur, Desa Palajau, Kabupaten Jeneponto.
Walau hanya berada di peringkat 6 dari 24 utusan kabupaten/kota, namun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Jeneponto menyambut haru atas prestasi ini dan mengucapkan selamat kepada pengelola Perpustakaan An Nur Palajau, yang selama ini giat berjuang membangun literasi masyarakat Jeneponto khususnya masyarakat Desa Palajau, walau pengelolanya adalah seorang warga disabilitas. Dispusip Jeneponto paham betul bagaimana perjuangan Perpustakaan An Nur dalam membesarkan perpustakaan desanya ini dan masalah-masalah yang dihadapinya.
Pengelola Perpustakaan An Nur
Desa Palajau menyambut gembira dan bangga atas capaian ini. Kepada Dispusip
Jeneponto, Pengelola Perpustakaan An Nur menyampaikan terima kasih atas
pendampingannya selama ini, baik waktu mengikuti lomba tingkat kabupaten, maupun
saat mengikuti lomba tingkat provinsi. Dengan mata berkaca-kaca, Sahabuddin,
S.Pd selaku pendiri dan pengelola Perpustakaan An Nur menyampaikan permohonan
maafnya kepada kepada Dispusip Jeneponto karena
tidak mampu mewujudkan harapan untuk mewakili Provinsi Sulawesi Selatan pada
lomba perpustakaan desa/kelurahan tingkat nasional.
Penilian lomba perpustakaan desa/kelurahan
tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Perpustakaan An Nur Palajau dilaksanakan
pada tanggal 12 Juli 2025, yang dilakukan oleh 3 penilai dari provinsi, yaitu
Nilma, SE,MM (Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel); Amaluddin
Zaina, S.Sos, M.Hum (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Sulsel), dan Muhammad Yusuf
Manne, SE, M.Si (Pustakawan UNM). Dari visitasi ini terungkap bahwa
Perpustakaan An Nur Palajau yang selama ini berjuang membangun literasi
masyarakat Desa Palajau tidak mendapat anggaran dari pemerintah Desa Palajau, sehingga
nilai sebagai perpustakaan desa kurang, dibanding dengan finalis lainnya yang
mendapat dukungan penuh dari pemerintah desanya.
“Perpustakaanta, Pak, sangat luar biasa, tapi sayang sekali Pak tidak ada sedikit pun anggaran dari dana desata, andaikan ada walau hanya 5 juta saja, maka bisa dipertanggungjawabkan sebagai perpustakaan desa. Kalau begini, walau kita sembunyikan bagaimana, tetap ketahuan bahwa perpustakaanta bukan perpustakaan desa, melainkan perpustakaan masyarakat atau TBM”, ungkap Nilma, Ketua Tim Penilai pada pengelola Perpustakaan An Nur.
“Ketidakhadiran pemerintah desata di tempat ini
lagi bukti nyata, Pak bahwa perpustakaanta tidak mendapat dukungan dari Pemerintah
Desa, karena jangankan kepala desa, sekretaris desanya saja tidak hadir di
momen yang sangat penting ini”, tambah Bu Nilma.
“Gini, Pak, Kita ini lebih
cocoknya mengikuti lomba perpustakaan masyarakat saja, kami sangat mendukung
bila bika Kita ikut lomba TBM dan langsung tingkat nasional, nanti kami
kirimkan link pendaftarannya”, saran Bu Nilma. Kepada Tim Penilai, Pengelola
Perpustakaan An Nur mengaku tidak tau alasannya mengapa Pemerintah Desa Palajau
tidak bersedia memberikan anggaran kepada Perpustakaan An Nur yang sejak tahun
2022 beralih menjadi Perpustakaan Desa Palajau, yang sebelumnya adalah
perpustakaan masyarakat.
“Tapi sangat luar biasa ini
Perpustakaan An Nur bisa maju dan menjadi Perpustakaan Terbaik tingkat
kabupaten tanpa asupan dana dari pemerintah desa”, imbuh Bu Nilma. Apresiasi
yang sama diberikan pula oleh 2 penilai lainnya, tapi lagi-lagi mengatakan
sayang sekali tidak bisa dibuktikan bahwa Perpustakaan An Nur sebagai perpustakaan
desa, karena tidak adanya anggaran dana desa padahal masa perjuangannya telah
lima tahun.
Walau tidak mendapat anggaran
desa, namun kepada Tim Penilai, Pounder TBM An Nur Palajau berjanji akan tetap
berjuang membangun literasi masyarakat walau nantinya tidak akan mengelola lagi
perpustakaan desa, melainkan akan fokus mengelola TBM saja. Tanpa dana desapun,
TBM An Nur Palajau bisa hidup dan bisa mengelola anggaran 60 juta setahun yang
dananya dari hasil advokasi. (Els@h).



